Senin, 23 Agustus 2010

teori kekerasan


Dari semua teori kekerasan, teori' "kekerasan struktural" dari Johann Galtung, seorang kriminolog dari Norwegia dan seorang polemolog, adalah teori yang bertalian dengan kekerasan yang paling menarik. Dalam pengulasan dan penganalisaan lebih lanjut, saya sampai pada kesimpulan bahwa teori kekerasan struktural pada hakekatnya adalah teori kekerasan "sobural". Dengan "sobural" saya maksudkan suatu akronim dari (nilai-nilai) sosial, (aspek) budaya, dan (faktor) struktural (masyarakat).

Dengan "kekerasan struktural" dimaksudkan kekerasan tidak langsung, yang bukan berasal dari orang tertentu, tetapi yang telah terbentuk dalam suatu sistem sosial tertentu. Jadi bila anda berkuasa atau memiliki harta kekayaan berlimpah, maka akan selalu ada kecenderungan untuk melakukan kekerasan, kecuali kalau ada hambatan yang jelas dan tegas.

Teori "kekerasan struktural" jika diimplementasikan secara empirik realistik, telah diterapkan secara telanjang di zaman Soeharto (Orde Baru) melalui Angkatan Bersenjata dan organisasi politik yang berkuasa berbaju kultur Jawa. Secara singkat, Soeharto bisa dibanding dengan Ken Arok, hanya zaman dan teknologi (bersenjata) yang berbeda. (Baca buku Pramoedya Ananta Toer, Arok Dedes, Hasta Mitra, Jakarta, 2002). 
teori yang lainnya 
Teori-Teori Tentang Kekerasan
Teori Faktor Individual
Beberapa ahli berpendapat bahwa setiap perilaku kelompok,
termasuk perilaku kekerasan, selalu berawal dari perilaku
individu. Faktor penyebab dari perilaku kekerasan adalah
faktor pribadi dan faktor sosial. Faktor pribadi meliputi kelainan
jiwa. Faktor yang bersifat sosial antara lain konflik rumah
tangga, faktor budaya dan faktor media massa.
Teori Faktor Kelompok
Individu cenderung membentuk kelompok dengan
mengedepankan identitas berdasarkan persamaan ras, agama
atau etnik. Identitas kelompok inilah yang cenderung dibawa
ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain. Benturan
antara identitas kelompok yang berbeda sering menjadi
penyebab kekerasan.
Teori Dinamika Kelompok
Menurut teori ini, kekerasan timbul karena adanya deprivasi
relatif yang terjadi dalam kelompok atau masyarakat. Artinya,
perubahan-perubahan sosial yang terjadi demikian cepat
dalam sebuah masyarakat tidak mampu ditanggap dengan
seimbang oleh sistem sosial & masyarakatnya.






Kekerasan


Dalam KBBI, kekerasan didefinisikan sebagai perbuatan
seseorang atau kelompok yang menyebabkan cidera atau
matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik atau
barang orang lain.
Menurut N.J. Smelser ada 5 tahap dalam kerusuhan massal.
Kelima tahap itu berlangsung secara kronologis dan tidak
dapat terjadi 1 atau 2 tahap saja. Tahap-tahap tersebut
adalah :
1.Situasi sosial yang memungkinkan timbulnya kerusuhan
yang disebabkan oleh struktur sosial tertentu.
2.Tekanan sosial, yaitu suatu kondisi saat sejumlah besar
anggota masyarakat merasa bahwa banyak nilai dan norma yang sudah dilanggar. Tekanan ini tidak cukup menimbulkan kerusuhan atau kekerasan, tetapi juga menjadi pendorong terjadinya kekerasan.
3.Berkembangnya perasaan kebencian yang meluas
terhadap suatu sasaran tertentu. Sasaran kebencian itu berkaitan dengan faktor pencetus, yaitu peristiwa yang memicu kekerasan.
4.Mobilisasi untuk beraksi, yaitu tindakan nyata berupa
pengorganisasi diri untuk bertindak. Tahap ini merupakan tahap akhir dari akumulasi yang memungkinkan terjadinya kekerasan.
5.Kontrol sosial, yaitu tindakan pihak ketiga seperti aparat
keamanan untuk mengendalikan, menghambat, dan
mengakhiri kekerasan





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar